Showing posts with label Story that Tickle. Show all posts
Showing posts with label Story that Tickle. Show all posts

Friday, October 15, 2010

Lomba Lari Mengejar Truck

Tiba-tiba ingin berbagi cerita seperti judul di atas gara-gara tadi, pas lagi di pasar melihat 3 orang anak kecil berlarian dari pasar menuju pantai. Gue pikir mereka lomba lari, ternyata mereka mengejar becak yang ingin mereka tumpangi. Tanpa sadar gue senyum-senyum sendiri, kembali ingat tentang potret masa-masa Tugas Akhir *wakwaw..segitunya ah ;) Anyway, this is the story yang gue rewrite dari buku harian (asli niat banget)

Hari itu adalah beberapa hari menjelang hari terakhir gue, Fithri, dan Yiyi di lapangan. Sudah sebulan kita bertiga bermain-main di Kabupaten Rembang dalam rangka pemetaan. Sekarang adalah giliran lapangannya Fithri setelah lapangan gue dan Yiyi selesai. Karena kami berkelompok alias daerah yang dipetakannya berdekatan, jadilah kami sepakat untuk bertiga ke lapangan, saling bantu, secara fisik dan pikiran.
Lapangannya Fithri berlokasi di Kecamatan Gunem (baca: Nggunem) dan saat itu kita menetap di rumah Bp. Kepala Desa yang rumahnya cukup memadai dan kelihatan sugih di antara warga lainnya.
Okey, peta sudah di tangan, rencana perjalanan udah dibuat dan informasi penting udah kita kantongin dan inget-inget sebelum pagi itu memulai ke lapangan.
Di antaranya adalah:
1. Nggak ada angkot ke daerah yang mau didatangi, alternatifnya adalah jalan kaki atau ngojek
2. Daerah yang terjauh adalah hutan yang bisa tembus ke daerah tambang batu gamping
3. Satu-satunya kendaraan yang bisa digunakan dari daerah tambang tersebut adalah truk pengangkut batu
4. Truk selesai beroperasi ngangkut batu jam 4 sore
5. Daerah tambang tersebut jaraknya sekitar 25-30km dari desa

Nomer 4 dan 5 kita inget betul-betul tuh. Harus selesai sebelum jam 4 dan itu daerah tambang harus kita temuin karena kalo enggak...selamat jalan kaki deh ampe desa! Pendek cerita, semua berjalan lancar sampe tengah hari, walaupun banyak jalan kaki ke sungai dan rumah-rumah penduduk,setidaknya data singkapan yang didapat lumayan banyak. Fithri terlihat senang. Gue sama Yiyi cukup senang lah melihat teman senang. Jam menunjukkan jam 2 siang, hampir jam 3 tapi kita masih berputar-putar disitu-situ aja, hutan. Kanan kiri masih rimbun sama pohon walaupun jalan setapak cukup jelas. Kita orientasi sesering mungkin dan merasa yakin kita ada di jalan yang benar hanya saja jam sudah hampir jam 4 tapi nggak ada tanda-tanda kita bakal keluar dari hutan. Jalan setapak rasanya nggak ada ujung =(
Gue dan Fithri udah pasang muka ditekuk, mengandalkan Yiyi yang jadi navigator dan pegang GPS ternyata nggak cukup untuk bikin kita tenang. Dengan sedikit mencela GPS dan navigasinya Yiyi, gue sama Fithri mencoba bercanda. Kelihatan kalo si Yiyi mulai khawatir. Nggak lama, hanya dengan ngasih sedikit aba-aba Yiyi nyuruh gue dan Fithri untuk berlari. Iya, lari! Bukan lari-lari kecil atau lari-lari anjing tapi lari sekenceng-kencengnya. Maklum, Yiyi ini orang yang sangat irit ngomong, ditambah dia cowok sendiri dalam kelompok kita jadi kayaknya emang harus jadi penyeimbang antara gue dan Fithri yang sama-sama hobi bercanda, ngobrol, ketawa-ketawa, dan kerempongan lainnya.
Balik ke lari.. Gue masih nggak ngerti maksudnya Yiyi nyuruh kita lari. Tapi yang jelas dia lari kenceng banget, jauh di depan gue sama Fithri. Sedikit takjub melihat kenyataan karena Yiyi termasuk orang yang agak ndut dan slow gitu deh. Akhirnya si Yiyi berhenti juga dan kita pun ngerti kenapa dia minta kita untuk berlari; Karena dia denger suara truk ;) And yess! ternyata 100m di depan kita adalah penambangan batu gamping yang disebut-sebut oleh Pak kades tadi pagi. Lirik jam, pas! 3.45 sore. Sambil ngos-ngosan kita bertiga duduk di pinggir jalan, nunggu truk dateng. Masih sambil ngos-ngosan Fithri dan gue protes kecil ke Yiyi. "Yi.. kalo mo nyuruh lari bilang-bilang kek alesannya, gue pikir elo tuh kebelet tau gak.." Fithri sewot, napasnya memburu. Gue juga ikut nambahin "tau lo Yi, kayak dikejar-kejar apaan aja..". Yang diprotes cuma senyum-senyum doang, kayaknya puas banget bikin kita kesel. "Yi..elo kenceng juga yah larinya, dulu menang mulu ya kalo ikut lomba balap karung??!!" Sontak kita bertiga ngakak abis, yang diledekin juga ikut ketawa *tau deh bener apa enggak tuh soal balap karung
Nggak lama truk batu pun melintas dan dengan sigap gue dan Fithri berdiri dan mengacung-acungkan jempol tanda minta tebengan, sedangkan Yiyi tetap duduk. Dia pikir 'saatnya para perempuan turun tangan'. Setelah mengutarakan maksud kami untuk numpang, kami pun diminta naik. Tanpa diminta kami bertiga jalan ke bak belakang, yah tau diri lah namanya juga numpang.. masak mau minta duduk di jok enak. Eh, si pak supir malah nyeletuk "mbak'e.. iku neng buri koncone sing lanang ae.." Sambil tertawa dalam hati dan mengambil duduk di depan bersama pak supir, gue dan Fithri meledek Yiyi "tuh kan Yi..percuma juara larinya nomer 1, tetep aja elo yang duduk di bak belakang bareng batu..hihi" sambil mengerling jail. Eh yang diledek cuma pasang muka dongkol dan pasrah

Well.. itu salah satu dari banyak cerita yang akan gue inget-inget terus. Entah kenapa, berkesan banget buat gue, dan gue yakin buat Fithri juga *kalo Yiyi nggak tau deh. Tak terlupakan bener emang lari kenceng-kencengan sama Yiyi dan Fithri. Miss u guys, wherever u are now :)

Thursday, October 14, 2010

RPM is My Drug

Ceritanya itu judul gue plesetin dari lagunya Keisha yang judulnya Your Love is My Drug.
Iya, gue mendadak jadi suka banget sama lagu yang ini gara-gara RPM dan Epy. Ceritanya gue baru nyoba lagi kelas RPM di CF setelah sebelumnya lebih nyaman dengan suasana pusat kebugaran yang homie kayak LS. Okey, pendek cerita masuklah gue malam itu di kelas RPM, jam 7 malem. Instrukturnya namanya Epy. Sedikit deskripsi tentang Epy.
He's a good looking guy ..yah ganteng banget sih enggak, well sort of.. enak aja dilihat lama-lama. Sedetik kemudian terus terang gue langsung ilfil kepadanya sebagai wanita *haissshhh. Begini prolognya ketika memperkenalkan diri ke khalayak ramai para peserta kelas RPM yang sekaligus bikin gue ilfil :

"Selamat malam smuanya...kembali di kelas RPM bersama saya Epy..hehe, ada yang baru pertama kali ikut kelas ini?" suaranya serak tapi volumenya keliatan dikecilin. Nadanya agak-agak manja dan sedikit mmm.. centil. Nanyanya juga sambil senyum-senyum kemayu gimanaaaa gitu

Tunjuk tangan lah gue dengan pasang tampang yang kecewa banget karena ke'kemayuan'annya itu

"Selamat bergabung, trima kasih lo mbak...jangan kapok ya sama Epy" sambil sesering mungkin njilatin bibirnya yang tipis itu<--mirip uler!

Lalu kelas pun dimulai.Gue sempet meremehkan si Epy ini; ah si kemayu ini paling RPMnya nggak berat-berat amat kali ya, secara lenjeh gitu orangnya

Ronde pertama belum terlalu berasa, masih enteng di paha dan di kaki. Masuk ke 20 menit pertama barulah inti latihan dimulai dan si Epy pun mulai terlhat sangar dengan meminta semua untuk menambah beban secara brutal Gimana nggak brutal, tiap 2 menit dia ngasih instruksi untuk nambah beban. Menambah beban disini cukup dengan memutar tombol yang ada di depan dan kemudian secara otomatis genjotan makin berasa berat..yah incline mode gitu lah.

Gue salah ternyata telah meremehkan Epy. Track berikutnya yang dipasang adalah Kesha-Your Love is My Drug. Asli! ini lagu mompa semangat banget deh, khususnya gue dan tambah semangat waktu liat si Epy yang kayak kesetanan nambahin beban dan nggenjot setengah beringas sambil nyanyi-nyanyi.. *eh buset
Terlepas dari kelenjehannya si Epy, sejujurnya gue enjoy di train sama dia dan gue rasa yang lain juga begitu, terbukti dari sorak sorai peserta lain yang ikut terpacu melihat Epy yang demikian semangat ngegoes incline dan memotivasi kita.

Akhirnya setelah 55 menit kita bertarung dengan sepeda warna kuning itu, saat yang ditunggu-tunggu dateng juga; cooling down
Track yang diputer Soul Sister miliknya Train. Ecek-ecek gitar di bagian intro dimanfaatkan Epy untuk menghibur kita dengan cara berpura-pura seperti pengamen yang lagi main gitar

"Selamat malam kaka, mbak semuanya...permisi yah numpang nyanyi...." Dengan suara serak itu dia mencoba bercanda sambil menebar senyum manis.. *nah kalo lagi senyum gini keliatan dikit deh machonya

RPM malam itu pun akhirnya selesai, kelas ditutup dengan promonya Epy untuk hadir di RPM berikutnya bersama dia di hari Selasa.

Well.. si Epy ini sejujurnya berhasil membuat gue menyukai kelas RPM dengan trigger lagunya Keisha tadi. Dan karena gue udah ilfil duluan sama dia yah..apa boleh buat cukup dengan gue menggilai RPM dan Your Love is My Drug aja deh

Selamat olahraga

Thursday, August 12, 2010

Mikrolet dan Ceritanya

Kejadiannya baru semalem. Seperti biasa, jalur gue pulang kantor adalah casablanca-kampung melayu-kalimalang. Ini terjadi saat gue di dalem M26, di daerah kali malang. Gue duduk paling pinggir, deket pintu,di kursi kayu tambahan yang muat untuk 2 orang. Buat yang sering naik angkot / mikrolet atau sebangsanya pasti ngerti gue duduk dimana. Mikrolet malam itu seperti malam-yang sudah-sudah, kursinya penuh terisi. Dalam cahaya lampu yang remang-remang gue masih bisa liat satu persatu muka-muka capek para penumpang ini, tak terkecuali mas-mas yang duduk depan gue, mukanya kucel tapi lucu (baca: ganteng tenan!). Mas kucel ini seperti kebanyakan karyawan muda Jakarta pada umumnya yang lebih sering terhipnotis sama BB di genggaman tangannya daripada lingkungan sekitar (baca: dia nggak nengok sama sekali loh ke arah gue,grrr..!). Okey, M26 bergerak mulus dari Otista sampai Kali Malang dan gue pun tumben nggak ngantuk. Ceritanya bapak-bapak yang duduk di sebelah gue turun, bergeserlah gue ke posisi dimana bapak tadi duduk (masih di kursi yang sama), saat gue menggeser pantat gue, loh kok, tiba-tiba ada sesuatu yang nyangkut di celana gue, di bagian pantat tepatnya.
Memang kursi tersebut dari kayu dan banyak kepala paku menyembul, yah maklum kursi kayu hasil kerajinan tangan abangsupir mikrolet. Oke, guemasih merasa ada sesuatu yang nyangkut, sontak gue memiringkan sedikit pantat gue dan meraba celana, ada apa gerangan? Yak, betul sekali..sesuatu telah menyangkut di celana gue, entah apa itu yang jelas belum bisa gue lepas, parahnya gue nggak bisa bergeser ke kiri / kanan apalagi mengangkat badan gue, kalo gue paksa pasti ini celana bakal robek, dan seisi mikrolet yang sedang tidur-tidur ayam itu pasti bakal bangun karena suara celana gue yang menggelegar, berbunyi ‘kreeekk’, dan yang lebih parah si Mas Kucel itu pasti bakal senyum-senyum sinis ngeliatin gue sambil mikir “ni cewek badut banget sih..” trus..trus..dia abis itu pasti bakal mengupdate statusnya di FB / twitter yang isinya kurang lebih “Ada cewek badut yang celananya robek gara-gara kesangkut paku di dalam mikrolet...Lumayan lah buat bahan ketawaan”.. Ohhhh!!
Lalu gue memutuskan untuk mematung di kursi itu, padahal yah ada ibu-ibu naik di sebelah gue dan dia minta gue geser sedikit. Ehm.. gue Cuma bisa senyum ke dia sambil pura-pura menggeser badan gue. Pasrah, dia cuma bisa ngeliatin gue dengan terheran-heran. Begitu juga saat pak supir meminta gue untuk pindah ke bangku 6 karena sudah ada orang yang turun, gue pura-pura tidur aja dong, aduuuh bodoh banget deh ah. Walaupun begitu gue tau, masalah sangkut menyangkut ini harus segera diselesaikan karena nanti kan gue bakal turun juga di Curug, masak gue mau ikut mikrolet dan supirnya ampe ke Bekasi!! Tapi paling tidak, gue mau mbenerin celana nyangkut ini nunggu si Mas Kucel itu turun dulu, ampuuun...gue belum siap untuk tengsin di depan dia.
Mendapati Mas Kucel itu nggak turun-turun, akhirnya gue memberanikan diri sekali lagi meraba pantat gue, memiringkan sedikit pinggul gue, kemudian berusaha melepaskan paku yang nyangkut di celana gue. Mas Kucel lagi asik dengan earphone di kupingnya dan matanya tak lepas menatap Bbnya (korban teknologi banget sih si Mas ini, ihh makin gemes *pengen noyor). Setelah menganalisa dengan rabaan, gue mencoba melepaskan paku nyangkut itu dengan menggoyangkan badan gue ke arah kanan, berlawanan dengan arah saat si celana gue itu nyangkut di paku (bingung-bingung deh lo bacanya), gak berhasil! Yang ada malah ibu-ibu sebelah gue mendelik dengan judes, heran dia pasti ngeliat gue goyang-goyangin badan yang kemudian nggak sengaja nyenggol dia. Hhhh... mulai sedikit panik karena sebentar lagi gue harus turun, gimana ini kalo nggak bisa lepas juga?! Gimana kalo untuk ngelepasin ini gue harus dibantu seisi mikrolet?? mulailah gue membayangkan, supir mikrolet yang sedang mengeksekusi menarik paku yang masih menempel kuat di kursi sekaligus masih nyangkut di celana gue. Hooo, bener-bener imajinasi yang kayaknya nggak perlu gue deskripsiin deh (btw, knapa gue mbayanginnya si supir yah, kenapa nggak si Mas Kucel aja?!).
Oke, cukup Gita. U need more action! Akhirnya dengan mantap gue agak sedikit mengangkat badan gue, kembali meraba pantat gue, mencari-cari si paku sialan itu dan berusaha keras dengan segenap tenaga, memutar otak, mengutak-atik celana gue agar lepas dari si paku. Dan percaya nggak? Mas Kucel menengok ke arah gue, bukan ngelirik lagi, kali ini nengok, ngeliatin gue dari atas ampe bawah dan yang terpenting memperhatikan posisi gue yang terlihat seperti sedang mbenerin celana dalem yang nyempil atau seperti sedang garuk-garuk karena kermian, atau entahlah..bodo amat, terserah si Kucel ini mau mikir apa begitu juga dengan seisi mikrolet yang senyum-senyum sambil bisik-bisik heran ke arah gue. Dan akhirnya...perjuangan saya berhasil, saudara-saudara *terharu*.
Paku itu lepas juga dari celana gue dengan menyisakan sedikit robekan. Hhhh..Akhirnya, akhirnya.. gue bisa turun dari mikrolet ini dengan percaya diri. Sambil senyum-senyum sendiri, gue ngetok-ngetok plafonnya mikrolet, pertanda penumpang minta turun. :D

Ceritanya pun selesai

Monday, May 24, 2010

Singkong VS Holland Bakery

Tertanggal 10 Mei saat kejadian ini berlangsung.

Gue dianggap anak baru oleh orang-orang di kantor baru gue, padahal hari itu adalah hari ke-7 gue berkantor di perusahaan itu. Buat gue, namanya jadi anak baru itu cuma hari pertama. Tapi nggak tahu deh apa kisah ini ada hubungannya dengan ke-anak-baru-an gue. Simak aja dan tell me what u think??

Senin sore 16.30

Berasa seneng karena jam pulang kantor di kantor ini adalah jam 5 sore. Spertinya puasa Senin bakal lancar dan aman nih, kerjaan masih santai, suasana kantor kondusif, bos masih ramah bukan main, ahh. Nggak lama dateng seorang Nyonya, bernama Trisye yang sudah gue ketahui adalah first lady di kantor ini a.k.a istrinya bos besar. Si nyonya beroperasi di meja sebelahku, maklum nyonya yang ini giat bekerja, bukan tipikal mrs. sosialita yang cuma tau cara ngabisin duit. Kuping gue cukup tajam mendengar percakapan antara nyonya dengan supirnya "Eh Wi, tolong ambilin kue ya di mobil ibu, ada 2 kotak di belakang, bawa aja semua, buat disini soalnya" Walaupun nggak ngomong sama gue, kok gue merasa sangat sumringah ya..."ah si nyonya tau aja ada staff yang lagi puasa dan sedang bingung mau buka pake apa". Benar saja, sekembalinya gue dari sholat Ashar, bau wangi aroma kue tercium dahsyat di dalam ruangan kecil itu. Gue melirik sedikit ke meja sebelah gue..wiw!! ada 2 kotak bertuliskan merek terkenal Holland Bakery bertumpuk disitu. Wahh...Alhamdulillah, Allah emang murah rejeki, paling ngerti kalo gue lagi puasa. Tak lama gue lihat si nyonya sedang mondar-mandir membagikan [yang saya yakin adalah] roti ke beberapa orang. Nyonya ini memang sungguh ramah, tak segan ia menghampiri satu persatu staff dan level boss untuk membagikan [lagi-lagi saya yakin] roti berbungkus plastik. Lalu dia berjalan pelan ke meja di hadapan gue, nggak lama diapun berjalan di belakang gue dan duduk manis kembali di kursinya; sebelah gue. 1 detik, 2 detik.. ehemmm.. "hallo.. saya belum kebagian roti loh bu" dalem hati doang sayangnya. Dan keadaan pun tetap sama di detik ke-3, 4, 5, dan seterusnya. Hemppph! nyesek? emmm... ah nggak mungkin rotinya udah abis *sambil pelan-pelan ngintip si kotak roti di meja sebelah eh ternyata malah berbalas pandanga dengan si roti--> which means rotinya belum abis*

Akhirnya, gue pasrah..roti holland bakery (RHB) hanya mimpi menjelang buka puasa. Gue bener-bener nggak dikasih. Lalu si nyonya terlihat sibuk mengetik dengan note padnya sampe-sampe waktu staffnya nyamperin dia, yang bernama Pak Suri [nama panjangnya Matisuri kali ya] agak sedikit dicuekin. Tapi Pak Suri nggak kecil hati dia tetep berusaha menarik perhatian nyonya atas pekerjaan yang sudah dia selesaikan.
Pak Suri: "Bu, ini dokumen-dokumen dauh semua loh, untung saya ke imigrasi hari ini jadi beres deh semuanya, coba kalo nggak hari ini..wahh gak tau deh gimana jadinya" Nyonya nggak bergeming.

Pak Suri mencoba lagi: "Bu ini saya beliin singkong goreng nih bu, enak loh bu, tadi saya beli di bawah, masih anget nih bu."

Nyonya mulai tertarik: "Ya udah taro aja situ, makasih lo. Eh kamu udah ambil roti buat kamu?"

Pak Suri:"oh iya bu udah, makasih ya bu. Kayaknya enak nih" [iyalah enak!! -->seandainya gue bisa ngomong gitu]

Jam 5 lewat 15 sore-->saatnya gue pulang. Udah lupa masalah roti tadi, gue mau pulang dan berbuka puasa di rumah, nggak taunya si nyonya manggil gue waktu gue lagi beres-beres laptop

"Gita, nih buat kamu, dimakan ya" sambil tersenyum cantik, ngasih picin yang [gue yakin] berisi RHB tapi ditutup tissue di atasnya.

Gue:"Makasih ya bu" Jawaban singkat tanpa basa-basi, hhh.. sangat bukan gue kalo untuk berbasa-basi. Gue taro picin tertutup tissue itu di sebelah laptop gue. Ahh akhirnya, Allah menjawab do'a hambanya yang merasa dibedakan. Yeah!! Roti Holland Bakery (RHB) itu milikku sekarang, sambil tersenyum sinis, merasa menang dan merasa tidak di anak-baru-kan lagi. Hhh.. perfecto! setelah beberes laptop, si RHB pun akan gue bungkus untuk buka puasa nanti di jalan. Kuulurkan jemariku pelan-pelan untuk mengintip benda berharga yang ada di balik tissue, di atas picin... Oalahhh, RHB bener-bener tinggal khayalan, ternyata yang berada di atas picin kehormatan, bermahkotakan tissue adalah..Singkong Goreng!! -__-