Tiba-tiba ingin berbagi cerita seperti judul di atas gara-gara tadi, pas lagi di pasar melihat 3 orang anak kecil berlarian dari pasar menuju pantai. Gue pikir mereka lomba lari, ternyata mereka mengejar becak yang ingin mereka tumpangi. Tanpa sadar gue senyum-senyum sendiri, kembali ingat tentang potret masa-masa Tugas Akhir *wakwaw..segitunya ah ;) Anyway, this is the story yang gue rewrite dari buku harian (asli niat banget)
Hari itu adalah beberapa hari menjelang hari terakhir gue, Fithri, dan Yiyi di lapangan. Sudah sebulan kita bertiga bermain-main di Kabupaten Rembang dalam rangka pemetaan. Sekarang adalah giliran lapangannya Fithri setelah lapangan gue dan Yiyi selesai. Karena kami berkelompok alias daerah yang dipetakannya berdekatan, jadilah kami sepakat untuk bertiga ke lapangan, saling bantu, secara fisik dan pikiran.
Lapangannya Fithri berlokasi di Kecamatan Gunem (baca: Nggunem) dan saat itu kita menetap di rumah Bp. Kepala Desa yang rumahnya cukup memadai dan kelihatan sugih di antara warga lainnya.
Okey, peta sudah di tangan, rencana perjalanan udah dibuat dan informasi penting udah kita kantongin dan inget-inget sebelum pagi itu memulai ke lapangan.
Di antaranya adalah:
1. Nggak ada angkot ke daerah yang mau didatangi, alternatifnya adalah jalan kaki atau ngojek
2. Daerah yang terjauh adalah hutan yang bisa tembus ke daerah tambang batu gamping
3. Satu-satunya kendaraan yang bisa digunakan dari daerah tambang tersebut adalah truk pengangkut batu
4. Truk selesai beroperasi ngangkut batu jam 4 sore
5. Daerah tambang tersebut jaraknya sekitar 25-30km dari desa
Nomer 4 dan 5 kita inget betul-betul tuh. Harus selesai sebelum jam 4 dan itu daerah tambang harus kita temuin karena kalo enggak...selamat jalan kaki deh ampe desa! Pendek cerita, semua berjalan lancar sampe tengah hari, walaupun banyak jalan kaki ke sungai dan rumah-rumah penduduk,setidaknya data singkapan yang didapat lumayan banyak. Fithri terlihat senang. Gue sama Yiyi cukup senang lah melihat teman senang. Jam menunjukkan jam 2 siang, hampir jam 3 tapi kita masih berputar-putar disitu-situ aja, hutan. Kanan kiri masih rimbun sama pohon walaupun jalan setapak cukup jelas. Kita orientasi sesering mungkin dan merasa yakin kita ada di jalan yang benar hanya saja jam sudah hampir jam 4 tapi nggak ada tanda-tanda kita bakal keluar dari hutan. Jalan setapak rasanya nggak ada ujung =(
Gue dan Fithri udah pasang muka ditekuk, mengandalkan Yiyi yang jadi navigator dan pegang GPS ternyata nggak cukup untuk bikin kita tenang. Dengan sedikit mencela GPS dan navigasinya Yiyi, gue sama Fithri mencoba bercanda. Kelihatan kalo si Yiyi mulai khawatir. Nggak lama, hanya dengan ngasih sedikit aba-aba Yiyi nyuruh gue dan Fithri untuk berlari. Iya, lari! Bukan lari-lari kecil atau lari-lari anjing tapi lari sekenceng-kencengnya. Maklum, Yiyi ini orang yang sangat irit ngomong, ditambah dia cowok sendiri dalam kelompok kita jadi kayaknya emang harus jadi penyeimbang antara gue dan Fithri yang sama-sama hobi bercanda, ngobrol, ketawa-ketawa, dan kerempongan lainnya.
Balik ke lari.. Gue masih nggak ngerti maksudnya Yiyi nyuruh kita lari. Tapi yang jelas dia lari kenceng banget, jauh di depan gue sama Fithri. Sedikit takjub melihat kenyataan karena Yiyi termasuk orang yang agak ndut dan slow gitu deh. Akhirnya si Yiyi berhenti juga dan kita pun ngerti kenapa dia minta kita untuk berlari; Karena dia denger suara truk ;) And yess! ternyata 100m di depan kita adalah penambangan batu gamping yang disebut-sebut oleh Pak kades tadi pagi. Lirik jam, pas! 3.45 sore. Sambil ngos-ngosan kita bertiga duduk di pinggir jalan, nunggu truk dateng. Masih sambil ngos-ngosan Fithri dan gue protes kecil ke Yiyi. "Yi.. kalo mo nyuruh lari bilang-bilang kek alesannya, gue pikir elo tuh kebelet tau gak.." Fithri sewot, napasnya memburu. Gue juga ikut nambahin "tau lo Yi, kayak dikejar-kejar apaan aja..". Yang diprotes cuma senyum-senyum doang, kayaknya puas banget bikin kita kesel. "Yi..elo kenceng juga yah larinya, dulu menang mulu ya kalo ikut lomba balap karung??!!" Sontak kita bertiga ngakak abis, yang diledekin juga ikut ketawa *tau deh bener apa enggak tuh soal balap karung
Nggak lama truk batu pun melintas dan dengan sigap gue dan Fithri berdiri dan mengacung-acungkan jempol tanda minta tebengan, sedangkan Yiyi tetap duduk. Dia pikir 'saatnya para perempuan turun tangan'. Setelah mengutarakan maksud kami untuk numpang, kami pun diminta naik. Tanpa diminta kami bertiga jalan ke bak belakang, yah tau diri lah namanya juga numpang.. masak mau minta duduk di jok enak. Eh, si pak supir malah nyeletuk "mbak'e.. iku neng buri koncone sing lanang ae.." Sambil tertawa dalam hati dan mengambil duduk di depan bersama pak supir, gue dan Fithri meledek Yiyi "tuh kan Yi..percuma juara larinya nomer 1, tetep aja elo yang duduk di bak belakang bareng batu..hihi" sambil mengerling jail. Eh yang diledek cuma pasang muka dongkol dan pasrah
Well.. itu salah satu dari banyak cerita yang akan gue inget-inget terus. Entah kenapa, berkesan banget buat gue, dan gue yakin buat Fithri juga *kalo Yiyi nggak tau deh. Tak terlupakan bener emang lari kenceng-kencengan sama Yiyi dan Fithri. Miss u guys, wherever u are now :)
No comments:
Post a Comment