Saya jadi teringat pertanyaan seorang teman waktu sedang membujuk dirinya agar mau disuntik. “Gue phobia sama jarum, ngerti nggak sih? Elo pasti punya phobia kan?” Tanya si teman dengan sewot, berusaha agar saya mengerti. “Apa..yaa,mm enggak tuh,nggak ada” Jawab saya dengan sedikit ragu. “Ah bohong, kalo ular gimana? Lo pasti takut kan sama ular?” Sekarang nada pertanyaannya bernada menuduh. Saya pun menjawab diplomatis sekaligus jujur. “Gue nggak tau gue takut apa enggak sama ular.. gue belum pernah berhadapan langung, liat-liatan atau tatap muka sama ular jadi gue belum bisa jawab pertanyaan lo itu. Gueharap sih gue nggaktakut”. Nada suara saya kembali nggak yakin.
Selang sebulan dari pertanyaan teman saya tadi, barulah saya dapatkan jawabannya. Belum lama, baru kemarin setelah saya mengikuti Basic Training Muscle (BTM) SIOUX di Situ Gintung bersama teman-teman lain. Dan tahu nggak jawabannya apa? Iya, bener! Sudah tau kan dari judul tulisan ini. Ternyata saya tidak takut dengan ular? Kenapa? Karena di BTM saya diajarkan untuk mengenal ular, khususnya ular di Indonesia lebih jauh. Saya sadar sekarang, kebanyakan orang mungkin phobia ular bukan karena pengalaman buruk dengan ular tapi hanya ketakutan yang diwariskan saja. Contoh: kalau digigit ular pasti meninggal karena kena bisanya, belum lagi hal-hal mistis yang entah kenapa banyak dikaitkan dengan ular.
SIOUX adalah lembaga studi ular yang mempelajari, melestarikan, dan mengedukasi masyarakat Indonesia tentang ular secara ilmiah. Saya nggak akan cerita panjang lebar tentang SIOUX karena semua kegiatannya, tujuan, visi, misi serta sejarah berdirinya sudah diulas lengkap di webnya (lagipula siapa sih yang nggak tahu SIOUX!?). Yang ingin saya kemukakan adalah kekaguman saya terhadap para pendiri, pengurus, serta semua anggotanya yang secara terbuka memiliki misi untuk merubah paradigma masyarakat Indonesia tentang ular. Ini yang saya rasa patut diberi standing applause. Jenis-jenis ular di Indonesia itu sangat amat sangat beragam, lalu kenapa bukan kita yang orang Indonesia yang melestarikan dan mengenal ular-ular yang ada di Negri kita sendiri ? Apa kita tidak merasa sayang jika penelitian tentang keberagaman hewan tersebut nantinya dilakukan oleh ‘orang lain’ yang lebih perduli dan memiliki rasa ingin tahu yang lebih besar dibanding kita? Kalau sudah begini, lantas kita ngapain ? Berkoar-koar mengklaim minta hak paten untuk ular-ular tersebut ? Ah, lucu deh! Kenapa sih emangnya harus mengenal ular? Suka, tidak suka, ular adalah hewan liar yang keberadaannya paling dekat dengan kita, lantas bagaimana kalau tiba-tiba ular masuk ke rumah kita ? Ini yang perlu diwaspadai, itulah gunanya membekali diri dengan identifikasi ular dan dasar penanganan gigitan ular. Intinya, kegiatan BTM kemaren jelas berfungsi sebagai pemicu untuk saya dan Muscle baru SIOUX lainnya untuk mau belajar mengenal ular lebih dekat, diskusi, dan tentunya menularkan kepada masyarakat tentang perilaku kita kepada ular yang seharusnya; Waspadai, tetapi jangan bunuh ular!
Pengalaman saya pribadi sejujurnya sangat mengejutkan. Kemaren itu adalah kali pertama saya menyentuh ular. Kebetulan ada beberapa Muscle baru yang membawa ular piaraannya, termasuk Rudi. Saya pun memberanikan diri menyentuhnya, pertama bagian punggung kemudian perutnya dan membandingkan kekerasan dua bagiantubuh ini, kebetulan Kak Owin baru saja selesai memberikan materi tentang biologi ular. Oh, ternyata menyentuh ular nggak begitu menjijikkan seperti yang saya pikir selama ini. Lalu saya pun menaruh ular itu di lengan saya dan memperhatikan gerak-geriknya. Bentuk kepalanya, pupil matanya, juga saat dia menjulurkan lidahnya sampai akhirnya dia kembali sendiri ke kotaknya yang ada di pangkuan Rudi. Unik! Ya hewan ini unik, nggak punya tangan dan kaki tapi bisa menggerakkan tubuhnya, bahkan menelan mangsanya yang besarnya 10 kali lipat dari darinya.
Setelah materi biologi selesai tibalah saatnya praktek untuk identifikasi ular. Saya berada 1 kelompok dengan adjie Hasan, Adjie Fajri, Andi, Indra, dan Wandi. Di pos ini, pengisi materinya adalan Bang Nandi, Mamih, Rera, dan Mas Priyo. Belum lagi dimulai materinya, si ular terbang sudah loncat ke bawah, melepaskan diri dari tangannya Rera. Ular ini bertubuh ramping, gerakannya agresif, warnanya hijau terang dan ada corak vertikal berupa garis warna hitam dari kepala sampai ekor. Belum selesai mengamati gerakan ular ini yang ada di atas terpal, dalam hitungan detik dia sudah berhasil masuk ke dalam celana saya, bet!! Lenyap seperti permainan sulap. Saya reflek bersuara sambil mencoba untuk tidak panik “Mmmm..ularnya masuk celana gue nih sekarang”. Sementara yang lain pada memandangi celana saya, saya pun berdiri. Bang Nandi terlihat agak bingung sementara yang lain pada ribut tentang gigitan ular ini. Okey, walaupun ular ini nggak bahaya tapi tetap saja dia bisa mengigit. Huh! Untung dengan sigap Bang Nandi berhasil menarik ular itu dari bawah celana saya, kemudian dengan bergurau beliau nyeletuk “Oh pantes..ularnya jantan nih” sambil mengamati cloacca si ular. Materi yang disajikan hanya sedikit mungkin terkendala waktu. Identifikasi ular dimulai dari habitatnya; Arboreal, Aquatik, Terrestrial, Gurun, dan semi Aquatik. Selain ular terbang, ada ular Xenopeltis Unicolour yang habitatnya di tempat-tempat berlumpur, sawah, lembab (semi aquatik), Trimeresurus Albolabris (Arboreal). Setelah habitat, kita mengidentifikasi gigi ular, muali dari Aglypha,Ophistoglypha, Proteroglypha, sampai Solenoglypha.
Lanjut ke materi berikutnya adalah penanganan gigitan ular. Saya pun dengan sukarela tunjuk tangan untuk korban yang digigit ular. Sayang, si ular sepertinya kecapekan dan enggan rasanya mengigit tangan saya. Akhirnya hanya teori saja yang dibahas. Belum puas mencoba, diambil ular lain, yaitu Lanang Sapi (Elaphe radiata) dan digigitkan ke tangan saya kemudian tangan Adjie Hasan secara paksa. Kali ini lumayan, bekas gigitannya terlihat. Karena Lanang Sapi adalah ular yang tak berbisa, bekas gigitannya terlihat acak-acakan dan darah yang keluar dari tangan saya adalah darah merah dan segar, pertanda gigitan dari ular tak berbisa. Beberapa hal penting yang saya ambil dan coba ringkas di pos ini adalah; JANGAN PANIK ketika menghadapi gigitan ular (baik diri sendiri ataupun orang lain), kemudian cari posisi yang aman dan menjauh dari ular, lakukan imobilisasi atau memperlambat laju bisa menuju jantung dengan cara membuat luka baru di sekitar bagian yang digigit kemudian pembalutan. Luka baru ini tidak perlu lebar yang terpenting ‘dalam’. Agar diperhatikan saat membuat luka baru jangan memotong arah urat nadi (vena). Dari luka baru yang dalam inilah kita harus ‘memeras’ dan mengeluarkan darah yang mungkin sudah terkena bisa. Darah yang keluar akan berbentuk seperti agar-agar dan berwarna tidak segar, lakukan terus sampai keluar darah yang berwarna segar dan tidak kental lagi. Buat luka baru yang dalam tadi sebanyak mungkin di sekitar bagian yang digigit dan lakukan demikian sampai datang pertolongan medis yang lebih memadai. Penting untuk bisa mengidentifikasi jenis ular dan menentukan ‘berbisa atau tidak’ dari bekas gigitannya. Jika tidak berbisa jangan dianggap remeh, luka bekas gigitan harus tetap dibersihkan dan korban harus terus dipantau dan diperhatikan asupan makanan bergizinya (vitamin, susu, madu) selama beberapa jam ke depan. Untuk informasi, anti bisa yang disediakan di RS adalah anti bisa Ular Tanah, Ular Welang Weling (Maaf, 1 lagi saya lupa) dan hanya tersedia di RS UKI, Fatmawati (ah lagi-lagi saya lupa, silahkan yang ingin menambahkan). Pokoknya walaupun kita digigit ular, sebisa mungkin jangan membunuhnya dan kalau tidak bisa mengidentifikasi ular, paling tidak perhatikan betul ciri-ciri fisik ular (bentuk kepala, bentuk pupil mata, warna, ukuran, gerak-gerik, dan ciri khas lain) tersebut agar tepat penanganannnya kelak.
Lalu tibalah pada praktek yang saya tunggu-tunggu; penanganan ular atau snake handling. Ini jelas bukan ajang nekat dan adu nyali, menurut saya untuk mengenal ular perlu membangun mental untuk menangani ular sekaligus sebagai bekal diri di lapangan. Saya pun orang yang pertama kali mencoba untuk menangani Kobra (Naja naja sputatrix) setelah melihat contoh dari Kak Qim. Mulai dari memegang ekornya dan menempatkan tangan pada posisi 1/3 badan ular, kemudian menaruh hook di bagian kepalanya, lalu menahan ekor ular dengan kaki secara pelan dan terakhir memegang kepalanya dan melepas hook. Kak Qim mengingatkan untuk tetap memposisikan kepala ular ke bawah karena si Kobra ini bisa menyemburkan bisanya. Meletakkan kembali ular di atas tanah harus dimulai dari ekornya dahulu baru kemudian kepalanya. Aji adalah orang kedua yang mencoba untuk handling Kobra setelah saya, malang, posisi jari Aji yang telunjuk kurang ke depan dan menekan mulutnya sehingga mulut Kobra pun mampu membuka dan gigi bawahnya akhirnya melukai jari Aji. Perlu dicermati dan dijadikan lesson learned untuk orang awam seperti saya adalah, pertama; darah yang keluar adalah darah segar dan bekas gigitannya berbentuk U serta acak, ini ciri dari gigitan ular yang tidak berbisa. Kobra yang mengigit Aji memang berbisa tapi karena yang mengigit adalah gigi bawah sedangkan posisi gigi taring yang berbisa letaknya di atas, Aji boleh tenang dan sedikit bernapas lega walaupun kondisi badan harus tetap dijaga.
Akhirnya sore pun tiba dan kegiatan BTM ini selesai. Senang rasanya bisa menjadi bagian dari ‘tim’ ini. Wah, terus terang semangat untuk tahu lebih banyak jenis-jenis ular jadi makin nge-gas nih. Terima kasih SIOUX karena sekarang saya sudah berteman dengan ular dan akibat pikiran positif yang ditularkan kalian rasanya saya ingin bersahabat lebih dekat dengan ular. Well, berhubung beberapa hari lagi saya akan ke Sulawesi, sepertinya mulai sekarang saya merasa perlu untuk mendokumentasikan gambar sahabat baru saya itu dengan kamera. Ditunggu ya foto-foto narsis saya dan sahabat baru saya.
No comments:
Post a Comment